DRS. NASRULLOH, S.H.

           WAKIL KETUA

Alih Bahasa

English Arabic Dutch Indonesian

Struktur Organisasi

Struktur Organisasi

Standard Operation Procedure (SOP)

SOP Kepegawaian
SOP Keuangan
SOP Umum
SOP Kepaniteraan

Daftar Aset Pengadilan

Barang Milik Negara

Pengadaan Barang dan Jasa

Pengumuman Pengadaan Barang dan Jasa

PENGADILAN AGAMA

     PTA BABEL
     PA PANGKALPINANG
     PA SUNGAILIAT

Form Login






Kata Sandi hilang?

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini66
mod_vvisit_counterKemarin136
mod_vvisit_counterMinggu ini835
mod_vvisit_counterBulan ini1475
mod_vvisit_counterTotal93313

Pengunjung Online

Saat ini ada 3 tamu online

Portal Berita

Sindikasi

Anda disini:  Beranda arrow Yurisdiksi PA Tanjungpandan
PDF Cetak E-mail

Gambaran Umum
Pulau  Belitung

 

 

1.Geografis dan Wilayah
 

Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi tujuan wisata alam alternatif. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda, bersama-sama Bengkulu, dengan Singapura dan New Amsterdam (sekarang bagian kota New York). Kota utamanya adalah Tanjung Pandan.

Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar.

Sebagaian besar penduduknya, terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai, sangat akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan sehari-hari penduduknya. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduk Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Usaha pertambangan timah sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda.

Penduduk Pulau Belitung terutama adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.

Secara geografis pulau Belitung (Melayu ; Belitong) terletak pada 107°31,5' - 108°18' Bujur Timur dan 2°31,5'-3°6,5' Lintang Selatan. Secara keseluruhan luas pulau Belitung mencapai 4.800 km² atau 480.010 ha.

 

 - Di sebelah Barat dengan Selat Gaspar
 - Di sebelah Timur dengan Selat Karimata
 - Di sebelah Utara dengan Laut Laut Cina Selatan
 - Di sebelah Selatan dengan Laut Jawa
 

.  luas wilayah Pulau Belitung mencapai 4.800 km² atau 480.010 ha.Di sekitar pulau ini terdapat pulau-pulau kecil seperti Pulau Mendanau, Kalimambang, Gresik, Seliu dan lain-lain. 


  
2.Keadaan Alam
 a.Keadaan Cuaca 
  

Tahun 2005 kelembapan udara di Pulau Belitung berkisar antara 78 % sampai dengan 87 % dengan rata-rata perbulan mencapai 82,00 % dengan curah hujan antara 72,2 mm sampai dengan 410,2 mm, tekanan udara selama tahun 2005 sekitar 1.010,1 MBS (Tabel 1.2). Rata-rata udara selama tahun 2005 di Pulau ini mencapai 27,00C dengan rata-rata suhu suhu udara maksimum 31,50C dengan rata-rata suhu udara minimum 24,00C. Suhu udara maksimum tertinggi terjadi pada bulan Mei dan September dengan suhu udara 27,60C, sedangkan untuk suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu udara sebesar 25,70C.

 b.Keadaan Iklim 
  

Pulau Belitung memiliki iklim Tropis dan basah dengan variasi hujan bulanan pada tahun 2006 antara 3,3 mm sampai 691,6 mm dengan jumlah hari hujan antara 1 hari sampai 30 hari setiap bulannya. Curah hujan tertinggi pada tahun 2006 bervariasi antara 24,0 derajat celcius sampai dengan 29,7 derajat celcius, dimana kelembaban udaranya bervariasi antara 81 % sampai dengan 92 % dan tekanan udara antara 1009,1 mb sampai dengan 1011,8 mb.

 c.Tipologi 
  

Keadaan alam Pulau Belitung sebagian besar merupakan daratan rendah, lembab dan sebagian kecil pegunungan dan   perbukitan dengan ketinggian kurang lebih 500 m di atas permukaan laut dengan puncak tertinggi ada di daerah Gunung Tajam. Sedangkan daerah hilir (pantai) terdiri atas beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) utama yakni :

- Sebelah Utara oleh DAS Buding

- Sebelah Selatan oleh DAS Pala dan Kembiri

- Sebelah Barat oleh DAS Brang dan Cerucuk

 Keadaan tanah dipulau belitung pada umumnya didominasi oleh kwarsa dan pasi, batuan aluvial batuan granit.

 d.Keadaan Tanah
  

Keadaan tanah dipulau belitung pada umumnya didominasi oleh kwarsa dan pasi, batuan aluvial batuan granit.

Keadaan tanah terdiri dari :

  -
Podsolik dan Litosol :
   

Warnanya coklat kekuning-kuningan berasal dari batu plutonik masam yang terdapat di daerah perbukitan dan pegunungan, kuarsa, batu granit, kaolin, tanah liat, dll.

  -
Asosiasi Podsolik :
   

Warnanya coklat kekuning-kuningan dengan bahan induk komplek batu pasir kwarsit dan batuan plutonik masam.

  -
Asosiasi Alivial, Hedromotif dan Clay Humas serta regosol :
   

Berwarna kelabu muda, berasal dari endapan pasir dan tanah liat.

   
   
 e.
Flora
  

Di Pulau  Belitung tumbuh bermacam-macam jenis kayu berkualitas yang diperdagangkan ke luat daerah seperti : Kayu Meranti, Tamin, Mambalong, Mendaru, Bulin, Petaling dan Kerengas. Tanaman hutan lainnya adalah : Kapuk, Jelutung, Pulai, Felam, Meranti, Rawa, Mentagor, Mahang, Bakau dan lainnya. Hasil hutan lainnya merupakan hasil hutan terutama madu dan rotan. Madu pulau  Belitung terkenal dengan madu pahit.

 f.
Fauna
  

Fauna di Pulau Belitung lebih memiliki kesamaan dengan fauna di Kepulauan Riau dan Semenanjung Malaysia daripada dengan daerah Sumatera. Beberapa jenis hewan yang dapat ditemui di Kepulauan Bangka Belitung antara lain : Rusa, Beruk, Monyet, Lutung, Babi, Tringgiling, Kancil, Musang, Elang, Ayam Hutan, Pelanduk, berjenis-jenis ular dan biawak.

   
3.
Penduduk
 

Jumlah penduduk Pulau Belitung pada tahun 2010 sebesar 262.356 jiwa (hasi Susenas 2010) yang terbagi atas penduduk Kabupaten Belitung sebanyak 155.924 jiwa dan Kabupaten Belitung Timur sebanyak 106.432 jiwa.

Dari jumlah penduduk tersebut terdiri dari berbagai macam etnis, suku dan agama. Dari segi etnis dan suku penduduk Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari penduduk  asli, Melayu, Cina, Jawa dan Bugis.

  
4.
Pemerintahan
 

Wilayah ini terutama pulau Bangka, ganti berganti merupakan  daerah taklukan dari kerajaan Seriwijaya, Majapahit dan Mataram. Malah setelah Kapitulasi Tuintang, Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris yang diresmikan sebagai “Duke of Island”  pada tanggal 20 Mei 1812. Penguasaan Inggris berakhir setelah Konvensi London tanggal 13 Agustus 1814 dan dilaksanakan serah terima wilayah ini antara M.H. Court (Inggris) kepada K.Heynes (Belanda) di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816. Inggris lalu bertukar daerah kekuasaan dengan memperoleh Bengkulu dan Raffles membangun Singapura. Penguasaan oleh Belanda yang mulai menguras kekayaan wilayah mendapat perlawanan dari Depati Barin dan putranya Depati Amir, yang dikenal sebagai Perang Amir (1849 – 1851), dan kemudian Depati Amir diasingkan ke desa Airmata (Kupang, NTT).

Atas dasar Stbl. No.565 tanggal 2 Desember 1933, terhitung mulai tanggal 1933, dibentuk Residentie Bangka en Onderhoregheden

Dipimpin seorang Residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdeling. Belitung yang luasnya sama dengan pulau Bali menjadi satu Onderafdeling dipimpin Asisten Residen. Di Bangka dengan luas 2 kali pulau Bali ada 5 Onderafdeling yang kemudian menjadi 5 kewedanaan. Di zaman Jepang, keresidenan Bangka Belitung diperintah oleh Pemerintah Militer yang disebut Biliton Gunseibu.

Setelah Proklamasi, oleh Belanda dibentuk Dewan Bangka sementara pada tanggal 10 Desember 1946 (Stbl. 1946 No.38), yang kemudian resmi menjadi Dewan Bangka yang dilantik pada 11 Nopember 1947 dengan Ketua Masarif Datuk Bendaharo Lelo. Dewan Bangka inilah lembaga pemerintahan otonomi tertinggi.

Pada tanggal 23 Januari 1948 (Stbl. 1948 No. 123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam federasi Bangka Belitung Riau (BABERI) yang kemudian menjadi satu Negara bagian dalam RIS. Kemudian dengan keputusan Presiden RIS No. 141 Tahun 1950, Negara bagian ini kembali bersatu dalam NKRI hingga berlaku UU No. 22 Tahun 1948.

Pada tanggal 22 April 1950 diserahkan pemerintahan atas wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. Isa, disaksikan Perdana Menteri Dr. Halim. Dewan Bangka dibubarkan, ditunjuk R. Soemardjo oleh Pemerintah NKRI sebagai Residen Bangka Belitung, berkedudukan di Pangkalpinang.

Masih dibawah UUDS dan UU No. 22  Tahun 1948, dikeluarkan UU Darurat No.4 tanggal 16 Nopember 1956 yang membentuk Kabupaten-Kabupaten di Sumatera Selatan termasuk Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung, dan UU Darurat No.6 tanggal 16 Nopember 1956 yang membentuk Daerah Otonom Kota Kecil Pangkalpinang. UU Darurat No.4, 5 dan 6 tadi, dengan UU No.28 Tahun 1959 sehari sebelum Dekrit 5 Juli 1959 menjadi UU dan berlaku UU No.1 Tahun 1957, sehingga Pangkalpinang disebut Kotapraja yang menjadi ibukota Kabupaten Bangka, dan diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 13 Mei 1971 di Sungailiat.

Sejak Tahun 1956 Daerah Kresidenan Bangka Belitung telah mulai berjuang untuk menjadi Provinsi, seperti halnya juga Lampung, Bengkulu dan Jambi. Pada tahun 1970 perjuangan generasi II dilanjutkan dan kembali gagal, walaupun DPRD Sumatera Selatan telah menyetujuinya dan telah sampai pembahasan tingkat IV di DPR Pusat waktu itu.

Pada tahun 1999 perjuangan generasi III dilancarkan dari jalur usul inisiatif (DPR RI) maupun jalur eksekutif dan berhasil sehingga tidak diperlukan lagi perjuangan generasi IV.

Karena banyaknnya harapan dan permintaan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung agar daerah tersebut menjadi sebuah provinsi, maka untuk mengakomodir harapan tersebut, akhirnya keluarlah Undang-undang No. 27 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai dasar hukum berdirinya provinsi tersebut. Berdasarkan Undang-undang ini, akhirnya pada tanggal 21 Februari 2001 Pemerintah Pusat melalui Menteri Dalam Negeri yang saat itu dijabat oleh Suryadi Soedirja meresmikan berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan ibu kotanya Pangkalpinang, yang ditandai dengan dilantiknya Amur Muhasyim sebagai Pejabat Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Setelah menjadi provinsi, sebagai wujud mengakomodir harapan masyarakat dan sebagai sarana untuk mempercepat pembangunan di beberapa wilayah kabupaten, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah sehingga menjadi beberapa kabupaten. Hal tersebut didasarkan pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 23 Februari 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Belitung Timur di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dengan adanya pemekaran wilayah tersebut , maka wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang semula terdiri dari 1 (satu) wilayah yaitu Kota Pangkalpinang dan 2 (dua) wilayah Kabupaten yaitu Bangka dan Belitung bertambah 4 (empat) kabupaten yaitu sebagai berikut :

 a.
Kabupaten Bangka Selatan dengan ibukota Toboali
 b.
Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Koba
 c.
Kabupaten Bangka Barat dengan ibukota Muntok
 d.Kabupaten Belitung Timur dengan ibukota Manggar
    
5.
Ketenagakerjaan
 

Jumlah  penduduk Kepulauan Bangka Belitung usia 15 tahun ke atas atau yang termasuk Panduduk Usia Kerja (PUK) pada tahun 2005 sebanyak 746.651 jiwa atau 71,56 persen dari total penduduk. Sebesar 65,03 persen dari PUK termasuk dalam penduduk angkatan kerja (bekerja dan/atau mencari kerja) dan sisanya 34,97 persen adalah penduduk bukan angkatan kerja (sekolah, mengurus rumah tangga, lainnya). Artinya dari 100 penduduk yang termasuk angkatan kerja, secara rata-rata 8-9 orang diantaranya pencari kerja.

Penduduk usia kerja yang bekerja apabila dilihat dari sektor lapangan pekerjaan tampak bahwa sebesar 31,58 persen penduduk usia kerja yang bekerja yang terserap di sektor pertanian 28,89 persen, terserap sektor pertambangan dan sector perdagangan menyerap 15,31 persen.

  
6.
Agama 
 

Penduduk Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan beragama. Ditinjau dari agama yang dianut terlihat bahwa penduduk Provinsi ini memeluk agama Islam dengan persentase sebesar 87,73 persen, untuk  penduduk yang menganut agama Budha sebesar 7,51 persen, agama Kristen Protestan 2,13 persen, agama Katolik sebesar 2,48 persen dan lainnya atau 0,15 persen menganut agama Hindu. Tempat peribadatan agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ada sebanyak 718 masjid, 438 mushola, 102 langgar, 80 gereja protestan, 31 gereja katholik, 46 vihara dan 11 centinya.

 

      

            A. WAHAB, B.A.

    PANITERA / SEKRETARIS

Jam Sistem

INTERAKTIF

link MA

link Putusan MA

link Putusan Peradilan Agama

link Pembaruan MA

link BADILAG

Kata Kata Mutiara

"Letakkanlah dasar-dasar yang kokoh, tata kerja yang baik, agar penyakit-penyakit atau kelemahan-kelemahan pengadilan yang sudah lama ada tidak hinggap di lingkungan kerja saudara. Menjadilah saudara-saudara pelopor pembaharuan peradilan"

Pesan Ketua Mahkamah Agung RI Bagir Manan, saat meresmikan berdirinya Pengadilan Tinggi Agama Kepulauan Bangka Belitung, 11 April 2006
 

Foto Kegiatan

6.jpg